Type to search

Remaja

Menghadapi Anak Remaja yang Menutup Diri dan Malas Berkomunikasi dengan Orangtua

Tips menghadapi anak remaja yang menutup diri

Ada banyak hal yang dapat mengubah anak- anak saat mereka tumbuh besar. Selain usia, faktor lingkungan dan sosial mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap anak. Salah satu yang kerap terjadi adalah anak mulai membangun privasinya.

Mereka mulai asyik dengan teman- temannya dan seolah punya dunianya sendiri. Di titik ini, orangtua kerap merasa anak mulai menjauh sehingga mereka sulit untuk dijangkau.

Percayalah Ayah Bunda, perasaan- perasaan seperti ini sangat wajar adanya. Terutama saat anak tumbuh di fase remaja. Yang dulunya anak sedikit- sedikit cerita pada orangtuanya, tiba- tiba membutuhkan lebih banyak privasi dan mencoba mengatur dirinya sendiri. Memasuki fase usia ini, remaja kerap menganggap dirinya sudah mampu dan tidak mau diperlakukan seperti anak kecil lagi. Padahal, secara mental mereka sebenarnya belum cukup matang untuk dilepas sendirian.

Salah satu benteng privasi yang dilakukan oleh anak remaja adalah timbulnya perilaku menjaga jarak dari orangtua. Anak cenderung enggan jika sedikit- sedikit harus mengobrol dengan orangtua. Di sisi lain, orangtua perlu menggali lebih dalam tentang perasaan anak yang masih labil, menanamkan tanggung jawab, pemahaman soal menjaga diri, dan bicara tentang masa depan.

Saat Anak Remaja yang Mulai Menjaga Jarak Komunikasi

Apakah Ayah Bunda tengah berada dalam situasi ini? Berikut adalah rangkuman perubahan perilaku yang terjadi pada fase anak remaja

1. Anak menutup diri dan berhenti bercerita pada orangtua

Banyak orangtua sedih saat anak yang biasanya aktif bercerita tiba- tiba menutup diri dan hanya mau berbagi pengalaman pribadinya dengan teman- temannya saja. Di tahap awal mungkin ini terasa janggal untuk beberapa orangtua. Namun percayalah, ini adalah hal yang normal terjadi pada remaja.

Di tahapan usia remaja, anak- anak membutuhkan ruang tersendiri dan mulai belajar mandiri. Tidak heran, beberapa anak menjadi sedikit lebih tertutup dengan orangtuanya karena ingin punya privasi sendiri.

Untuk mengatasi situasi ini, berikut adalah beberapa hal penting yang perlu orangtua lakukan dalam mendampingi :

  • Tidak perlu secara terbuka menceritakan ketidaknyamanan yang orangtua rasakan
  • Tetap bangun interaksi positif dengan anak
  • Ajak anak untuk melakukan aktifitas menyenangkan bersama
  • Hindari mengorek informasi terlalu dalam dari anak. Sebaliknya, ceritakan saja tentang pengalaman hidup Ibu saat masih muda. Dengan begitu, anak akan lebih membuka diri tentang apa yang ia alami
  • Ajak anak berbicara sebagai orang dewasa dan hargailah pendapatnya
  • Tetap berikan batasan yang tepat

Selain point di atas, orangtua disarankan untuk terus membangun hubungan yang baik dnegan anak agar anak dapat bersikap terbuka dan tidak menyembunyikan kenakalannya di belakang orangtuanya.

Di banyak kasus, ada banyak anak yang takut bercerita kepada orangtuanya lantaran sering dihakimi dan dimarahi. Akibatnya, meski di depan semua terlihat baik- baik saja, anak justru kerap terlibat tindak kriminal atau kasus kehamilan di luar nikah.

Yang harus orangtua lakukan saat anak terjerat seks bebas

2. Anak Banyak Mengurung Diri di Kamar

Apakah anak terlihat menarik diri dari pergaulan? Atau mungkin Ayah Bunda mendapati putra putri tercinta terlihat begitu diam, bungkam, terlibat interaksi dengan banyak orang, dan tampak selalu mengurung diri di kamar? Di kesempatan yang lain, ia mungkin juga terlihat kehilangan minat melakukan kegiatan yang menjadi hobinya.

Perubahan perilaku seperti ini sebaiknya mendapatkan perhatian khusus karena merupakan bentuk tidak wajar dalam perkembangan remaja. Untuk menghadapi situasi ini, cari tahu apakah anak telah mengalami kejadian yang mengakibatkan trauma, seperti bullying, pelecehan atau terlibat dalam penyalahgunaan obat- obatan terlarang dan alkohol.

Perilaku diam dan mengurung diri di kamar juga bisa mengarah pada gangguan mental seperti skizofrenia atau gangguan bipolar yang kerap dialami remaja hingga dewasa muda di awal usia 20-an.

Di satu sisi orangtua memang perlu memberi privasi, namun orangtua perlu mengetahui apa yang anak lakukan selama berjam- jam di kamar sendirian. Orangtua juga bisa memantau perilaku anak di media sosial.

Jika terindikasi ada perilaku yang mengindikasikan adanya depresi atau psikologis lain, secepatnya orangtua perlu berkonsultasi ke pihak profesional untuk mendapatkan bantuan yagn diperlukan.

3. Anak Punya Keinginan Bunuh Diri

Bunuh diri bisa terjadi pada siapapun, termasuk anak kita. Tentu saja kita tidak ingin hal ini terjadi. Maka dari itu, saat perilaku anak sudah terlihat mencurigakan dan orangtua mulai menduga anak punya keinginan bunuh diri, cobalah untuk tetap tenang dan bijak. Namun, jangan menunda kesempatan untuk mendapatkan bantuan psikolog atau psikiater anak dan remaja.

Fase remaja memang masa transisi yang kompleks untuk anak. Anak mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Orangtua tidak bisa serta merta memarahi anak. Sebaliknya, anak sebaiknya diajak berbicara dari hati ke hati dan mendengarkan tanpa menghakimi.

Dengan mendengarkan, anak akan tahu bahwa orangtuanya berusaha untuk memahami perasaannya. Ia akan merasa mendapatkan dukungan, perhatian dan cinta dari keluarga.

Tags: