Type to search

Parenting Story

Kisah Seorang Ibu yang Menyesal, “Bayiku sayang, maaf karena ibu terlalu mendengarkan omongan orang lain.”

Salah satu kesulitan seorang ibu baru adalah meyakinkan diri sendiri bahwa kita mampu merawat bayi kita sebaik- baiknya. Tidak jarang, kita mendengar banyak saran yang berbeda- beda tentang cara mengurus bayi. Beberapa saran bahkan memaksa kita untuk melakukannya. Seolah- olah seorang Ibu baru tidak bisa mengurus bayinya yang baru lahir.

Sebuah surat untuk bayi yang ditulis oleh seorang ibu yang menyesal ini membuka mata banyak Ibu baru lainnya. Memang benar, selama ini banyak Ibu baru yang khawatir untuk merawat bayinya dan cenderung terpaksa mengikuti saran orang lain. Dan ibu ini pun menyesal karena dulu memilih mendengarkan omongan orang lain yang ternyata belum tentu cocok untuk bayinya.

Begini isi suratnya :

Dear bayiku sayang,

Kamu adalah orang yang menjadikanku sebagai ibu. Dan jalan menjadi seorang ibu tidaklah mulus, penuh jalanan terjal nan curam.

Ada banyak hal yang langsung bisa kulakukan secara alami, melalui insting seorang ibu. Mencintaimu, menenangkanmu hingga tertidur, dan menebak apa arti tangisanmu.

Tapi, ada banyak pula hal yang tidak kuketahui. Jadi, aku melakukan apa yang dilakukan oleh banyak ibu baru. Mendengarkan sumber yang mudah di dapat; ibu-ibu lain.

Semua orang punya pendapat tentang menjadi seorang ibu, dan aku kewalahan menghadapinya.

Meskipun informasi yang kudapat berguna dan bermanfaat, namun banyak juga yang tidak berguna. Hal paling sulit yang kuhadapi bersamamu, adalah waktu makan dan tidur. Aku tidak memiliki referensi, karena itulah aku melakukan apa yang disarankan oleh ibu lain.

Andai saja, aku tidak melakukannya.

Soal makanan, aku melihat di buku. Jika di buku mengatakan harus berusia 6 bulan, aku tidak akan berani memberimu makan selain ASI pada usia 5 bulan 29 hari.

Semua orang di sekitarku sangatlah ketat soal makanan yang diberikan pada anak, dan kapan harus diberikan. Karena kelihatannya alasan mereka kuat, aku mengikuti prakteknya.

Meskipun saat balita kau sudah bisa makan semuanya, aku selalu bertanya-tanya, apakah caraku mengikuti arahan di buku itu memberi andil dalam perilakumu sekarang yang suka pilih-pilih makanan?

Tapi, jujur saja, ini tidak seberapa dibandingkan dengan penyesalan ibu soal sleep training yang ibu lakukan padamu.

Ibu membuat kesalahan saat mengajarimu waktu tidur yang baik. Ibu sangat kelelahan dan sangat ingin beristirahat. Dan ibu akan membaringkanmu di sisiku saat kamu mulai rewel. Kita berdua tidur sangat nyenyak.

Ibu menyesal terlalu mendengar omongan orang lain
Namun, aku tidak pernah berpikir bahwa kebiasaan tidur dengan ibu akan susah dihilangkan darimu. Beberapa orang mengatakan, untuk membiarkan kamu menangis. Dan hanya perlu waktu tiga hari sampai kamu terbiasa tidur sendiri.

Ibu mendengarkan mereka. Andai saja, ibu tidak  melakukannya.

Hingga saat ini, ibu selalu sedih saat mengingat bagaimana ibu duduk di luar kamarmu saat kamu menangis keras. Dan ibu juga ikut menangis bersamamu.

Ibu sangat ingin berlari ke arahmu saat itu, namun tidak ibu lakukan. Dan hingga hari ini, 9 tahun kemudian, ibu lebih mudah tidur nyenyak saat berbaring bersamamu.

Ibu merasa itu karena ibu berusaha menghilangkan kebiasaanmu tidur dengan ibu. Ibu menyesal membuatmu menangis kencang, dan membuatmu merasa bahwa ibu tidak ada di sana untuk menggendong dan memelukmu.

Ibu tahu, cara tersebut ampuh bagi beberapa orang. Tapi cara itu tidak akan pernah berguna pada ibu, ataupun kamu, Nak.

Contoh kecil namun krusial tersebut, mengajariku tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang ibu. Hal itu menyadarkanku bahwa apapun yang ibu pilih untuk dilakukan pada anak-anak ibu, orang lain pasti akan selalu punya pendapat mereka sendiri.

Ibu belajar untuk tidak menelan semuanya bulat-bulat. Dan hanya melakukan apa yang ibu rasa benar untuk anak-anak ibu.

Pengalaman itu membuat ibu tahu cara terbaik untuk memberi pendapat pada ibu lain tentang cara pengasuhan mereka.

Dan yang paling penting, ibu tidak memberikan saran jika tidak diminta.

Jika seseorang meminta pendapatku, ibu akan sangat berhati-hati dengan apa yang ibu katakan. Apa yang berhasil dilakukan untuk anak-anak ibu, bukanlah arahan dari kitab suci yang wajib diikuti.

Ibu minta maaf jika taktik ibu dalam membesarkanmu, membuatmu memiliki masalah tidur dan makan.

Ibu hanya tidak tahu, dan berpikir bahwa mempercayai firasat ibu sendiri terlalu berisiko. Mari jadikan ini pelajaran penting buat kita. Agar kita bisa melakukan yang lebih baik di kemudian hari.

Dan ibu janji, sepanjang hidup ibu akan selalu mencoba melakukan yang lebih baik lagi.

Dengan cinta,

Ibu.

Familiar dengan kisah seperti ini? Memang benar, apa yang diungkapkan sang ibu dalam surat ini kerap menimpa ibu- ibu yang lain. Kita sering merasa cemas melakukan hal yang salah sehingga mencontoh orang lain yang lebih berpengalaman dalam mengurus anak.

Padahal, saat kita menjadi seorang Ibu, kita sudah dibekali dengan insting sendiri sebagai ibu. Kita dapat mengerti apa yang baik untuk dilakukan untuk anak kita. Kita dapat membekali diri dengan terus belajar dan melatih kepekaan kita dalam mengasuh buah hati tercinta.

Untuk para Ibu, mari kita bersikap lebih bijaksana lagi. Ada saatnya kita tidak perlu memberikan saran saat tak diminta. Ada saatnya kita tidak perlu mendengarkan omongan orang lain jika dirasa tidak sesuai untuk keluarga kita.

 

Referensi: Essential Baby

Comments

comments

Tags:

You Might also Like