Type to search

Anak Kesehatan

Apa yang Dimakan Anak Ternyata Bisa Mempengaruhi Perilakunya

Makanan mempengaruhi perilaku anak

Ibu mungkin pernah mendengar kalimat “You are what you eat” yang sering ditujukan pada orang dewasa. Kalimat ini mencerminkan bahwa apa yang kita makan akan berpengaruh terhadap bagaimana diri kita.

Tapi yang menarik, pernyataan ini  ternyata bukan hanya berlaku untuk orang dewasa saja, Bun. Menurut sains, hal ini juga berdampak pada anak- anak.

Nutrisi seimbang pada masa anak- anak akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak. Saat anak sering mengkonsumsi makanan tidak sehat, mereka cenderung mengalami masalah perilaku.

Pola makan buruk yang tinggi gula, makanan cepat saji, atau sering mengkonsumsi makanan berpengawet sering dikaitkan dengan masalah perilaku anak. Misalnya saja anak mengalami gangguan perhatian defisit, atau mudah marah dan agresif.

Dampak Makanan pada Perilaku Anak

Sebagai orangtua, tentu saja kita wajib mewaspadai dampak zat makanan tertentu terhadap kesehatan anak. Berikut ulasan ParentingCenter.id yang dilansir dari livestrong.com :

Konsumsi Gula dan Makanan Cepat Saji Terkait ADHD

Meski ADHD belum diketahui secara pasti, dalam jurnal Postgraduate Medicine disebut bahwa asupan gula berlebih dalam jangka waktu lama bisa memicu hal tersebut. Gangguan otak seringkali disebut dipicu oleh bahan kimia.

Selain itu, study di tahun 2012 yang dipublikasikan pada jurnal Nutrition mencatat adanya hubungan antara gula, dan konsumsi makanan cepat saji terhadap ADHD.

Agar tumbuh kembang ananda optimal, sebaiknya batasi konsumsi gula si kecil ya, Bun.

Bahaya Gula untuk Otak Anak
Konsumsi gula berlebih tidak baik untuk perkembangan otak anak

Pewarna Makanan Buatan juga Berpotensi Memicu ADHD

Di tahun 2012, sebuah analisa yang diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry mengungkap adanya kaitan efek pewarna makanan terhadap ADHD anak. Penelitian ini masih bias, namun menurut beberapa peneliti, data ini penting untuk dikembangkan lagi.

Pada tahun 2008,  The Center for Science in the Public Interest petitioned the U.S. Food and Drug Administration melarang penggunaan beberapa pewarna makanan buatan yang dinilai memicu ADHD.

Dr.David Schab, psikiater di Columbia University Medical Center menyebut bahwa perilaku anak- anak mulai membaik saat mereka berhenti mengkonsumsi makanan dengan pewarna buatan. Sebaliknya, saat mereka kembali mengonsumsi makanan dengan pewarna buatan, kondisi mereka kembali memburuk.

Makanan dengan Lemak Trans Memicu Anak Lebih Agresif

Lemak trans adalah jenis lemak yang bisa diproduksi secara sintetis. Jenis lemak ini banyak ditemukan di makanan cepat saji, makanan kemasan, dan makanan yang digoreng.

Lemak ini bisa meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke, serta punya kecenderungan memicu sifat lekas marah dan agresif pada anak, menurut studi yagn diterbitkan pada 2012 dalam jurnal Public Library of Science.

Meski penelitian ini tidak spesifik menyebut dampaknya pada kelompok usia tertentu, konsumsi lemak trans secara umum dianggap buruk dan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan dan perilaku pada anak- anak.

Mengatur Pola Makan Seimbang pada Anak

Makanan dengan pola gizi sehat dan seimbang sebaiknya sudah diperkenalkan pada anak sedini mungkin. Kenalkan mereka pada makanan dengan bahan alami, rendah gula, dan minim bahan buatan seperti lemak trans dan pewarna makanan.

Ajarkan anak mengonsumsi buah segar dan sayuran setiap hari. Jika anak tidak suka olahan sayur pada umumnya, ibu bisa mengakalinya dengan dipanggang atau dikukus. Ganti jus kemasan soda botolan dengan jus buah segar dan minum air putih yang cukup.

ANak juga sebaiknya diajarkan untuk mengurangi konsumsi camilan kemasan dengan banyak bahan sintetis. Sebaliknya, anak perlu diperkenalkan dengan camilan sehat dari biji- bijian, sereal, atau buah.

Tags:

You Might also Like