Type to search

Good Parenting

Psikolog Anak : Orangtua Jangan Fokus Kembangkan IQ Saja, EQ Juga Penting

Menumbuhkan empati anak penting untuk mengasah EQ

Mengoptimalkan tumbuh kembang anak bukan berarti hanya mengasah keterampilan intelektual atau IQ anak saja. Namun, penting juga mengasah keterampilan emosional (EQ) anak agar tumbuh menjadi anak dengan empati yang baik.

Psikolog anak, Roslina Verauli, M.Psi, Psi, pernah bercerita bahwa setiap bayi yang baru dilahirkan sudah mempunyai rasa empati dan simpati terhadap orang lain. Hal ini bisa dilihat dari adanya kericuhan yang terjadi di rumah sakit. Saat seorang bayi menangis, maka ini akan memicu bayi yang lain untuk ikut menangis.

Hal lain juga bisa terlihat saat bayi memasukkan tangan ke dalam mulut. Kebiasaan tersebut ternyata tidak dipicu karena semata- mata bayi merasa lapar saja.

“Kebiasaan itu sebenarnya bukan semata-mata hanya karena bayi merasa lapar saja loh. Bisa juga karena saat itu bayi merasa kedua orangtuanya cemas sehingga dia ikut merasa cemas dan butuh ketenangan,” ungkapnya.

Mengasah Empati Anak Sesuai Tahapan Usia

Menurut Roslina Verauli, M.Psi, Psi, setiap anak dilahirkan dengan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), seperti simpati dan empati.

Sayangnya, selanjutnya banyak orangtua yang hanya fokus mengembangkan IQ sang anak dan melupakan EQ sang anak. Padahal, untuk tumbung kembang yang optimal, stimulasi IQ dan EQ harus seimbang dan tepat.

Dengan mengasah EQ, anak dapat merasakan situasi orang lain dan berusaha untuk menyelesaikan masalah dari sudut yang berbeda. Hal ini secara tidak langsung dapat membuat anak lebih optimal dalam mengembangkan kemampuan IQ nya.

“Mengembangkan rasa peduli membuat Si Kecil memiliki perilaku prososial, yaitu perilaku yang membantu orang lain tanpa pamrih. Hal inilah yang perlu diasah sejak dini seiring dengan kemampuan daya pikir Si Kecil, agar dia mampu menyikapi sebuah permasalahan dan solusi yang tepat penuh empati,” jelasnya.

Mengasah empati anak dapat dilakukan di usia sedini mungkin. Mulai dari usia 1-2 tahun, 3-4 tahun, 5-6 tahun, hingga usia 7 tahun ke atas.

Di tahapan usia 1-2 tahun, anak masih sangat terikat dengan ibunya. Di tahapan usia ini ibu bisa mengajak anak bermain cilukba dengan berbagai ekspresi wajah. Dengan begitu, anak akan belajar memahami perubahan emosi yang dialami ibu.

Kemudian di usia 3-4 tahun, anak sudah mulai bisa melakukan aksi nyata. Ajak anak untuk membantu atau menolong orang lain.

Sedangkan di usia 5-6 tahun, orangtua mulai bisa melibatkan anak dalam ‘emotion talk’ dimana mereka bisa menyampaikan apa yang mereka rasakan dan memberikan pujian serta penghargaan untuk setiap hal baik yang mereka lakukan.

Saat Anak Punya Empati dan Simpati

Empati dan simpati adalah dua hal yang berbeda. Simpati adalah rasa peduli dan merasa iba terhadap kondisi orang lain. Sedangkan empat adalah perasaan yang muncul saat seseorang bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.

Kedua hal ini terlihat mirip, namun berbeda. Keduanya bisa dibilang sebagai keterampilan yang sangat kompleks untuk dikembangkan. Meski begitu, keduanya adalah hal yang mungkin utnuk dilatih dan diterapkan untuk anak- anak.

Apa yang terjadi saat anak- anak mampu berempati? Antara lain ia akan bisa :

  • Memahami bahwa ia adalah individu yang berbeda dengan orang lain
  • Memahami bahwa orang lain juga mungkin mempunyai perasaan dan pemikiran yang berbeda dari dirinya
  • Mengakui adanya berbagai macam emosi umum yang kerap dialami banyak orang, seperti rasa sedih, marah, bahagia, terkejut, dan lain sebagainya
  • Dapat melihat situasi tertentu dan membayangkan bagaimana rasanya, atau bahkan mencari jalan keluar untuk solusi masalah orang lain
  • Membayangkan respon seperti apa yang cocok untuk menghadapi situasi yang berbeda

Cara Mengasah Empati pada Anak

Pemahaman anak terhadap empati dan gestur untuk menunjukkannya adalah hasil dari berbagai keterampilan sosial emosional yang biasa berkembang di tahun- tahun pertama kehidupan anak. Maka dari itu, peran aktif orangtua untuk terus mengasuhnya sangat lah penting.

Lantas, bagaimana cara mengasah rasa empati pada anak? Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat orangtua lakukan :

1. Berempati terhadap anak

Tahapan pertama yang bisa orangtua lakukan dalam menanamkan empati pada anak adalah berempati padanya dan memberikan contoh yang baik. Misalnya saja anak masih takut untuk tidur dengan penerangan yang gelap, orangtua tidak perlu buru- buru memaksakan anak tidur dengan lampu mati di malam hari.

Secara perlahan sambil memberi pengertian beri tahu anak kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yakinkan kalau ibu akan selalu ada untuk bersamanya dan menjaganya.

2. Bercerita tentang perasaan

Agar anak dapat memahami perasaan orang lain, orangtua juga bisa sering mengutarakan perasaan kepada anak. Misalnya saat anak jatuh, menangis, dan tak mau makan, ibu merasa sedih akan hal itu.

3. Menjadi contoh untuk anak

Masing- masing anak adalah peniru yang ulung. Ia akan meniru dari apa- apa yang ia lihat dari orang di sekitarnya. Misalnya saat orangtua sering memberi contoh berempati terhadap orang sekitar, maka ia akan cenderung mempunyai perilaku yang sama. Jadilah contoh yang baik untuk buah hati.

4. Gunakan bahasa yang mudah dipahami anak

Saat memberi contoh berempati kepada anak, gunakan bahasa yang mudah dimengerti anak. Hindari penggunaan kalimat yang terlalu tinggi untuk tahapan usia anak.

5. Validasi emosi anak

Jangan buru- buru untuk menentukan emosi anak. Saat anak merasa sedih, marah, atau kecewa, orangtua kerap buru- buru memperbaikinya. Padahal, anak perlu memahami perasaan itu terlebih dulu. Setelah itu, bantu anak untuk mengetahui apa yang sedang ia rasakan. Misalnya saat anak sedang kesal, ibu dapat mengatakan, “Ohh, adik lagi kesal yaa… Apa yang bisa bunda bantu untuk membuat adik merasa nyaman kembali?”

6. Beri anak kesempatan untuk melakukan aksi nyata

Seperti yang kita bahas sebelumnya, anak- anak sudah dibekali dengan empati dan simpati sejak lahir. Namun, mereka butuh bantuan orang dewasa untuk mengelola dan mengungkapkan ekspresinya itu.

Yang perlu orangtua lakukan adalah memberikan kesempatan untuk anak mengungkapkannya. Misalnya dengan mengajak anak untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan.

7. Tetap bersabar

Mengasah rasa empati pada anak bukanlah hal yang instan. Hal ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Empati ini sendiri adalah keterampilan yang kompleks dan perlu dikembangkan sampai anak tumbuh dewasa nanti. Maka dari itu, kesabaran adalah kunci utama orangtua untuk terus bisa melatih hal ini.

Referensi: Zero to Three

Tags: