Type to search

Good Parenting Remaja

5 Sikap Remaja yang Wajib Dicermati Orangtua

Sikap anak remaja yang orangtua wajib waspada

Menghadapi anak remaja memang bukan perkara mudah. Mereka seringkali menghindari orangtua mereka saat menghadapi permasalahan, sehingga kerap tidak mudah untuk mengenali apakah sikap diam mereka karena tengah butuh bantuan atau tidak.

Membesarkan remaja memang harus siap mengalami perubahan. Hari ini ia ingin diajak menemani ke plaza, besoknya ia apalagi tidak ingin terlihat oleh temannya sedang bersama orangtuanya.

Kerapkali orangtua susah memisahkan apakah sikap anak remajanya itu memanglah karakternya ataupun terdapat suatu yang mengganggunya.

“Remaja merupakan periode perkembangan yang kompleks, jadi memang sulit untuk memastikan apakah anak sedang ada masalah. Tugas orangtua untuk menilai,” ungkap Dana Dorfman Ph.D, yang berpengalaman selama 25 tahun sebagai konselor anak dan orangtua.

Perubahan Perilaku Remaja yang Wajib Orangtua Waspadai

Mengidentifikasi maksud dari perubahan perilaku remaja akan membantu orangtua untuk memberikan support serta tindakan yang tepat. Untuk membantu para Ayah dan Ibu, setidaknya ini lah 5 perilaku remaja yang perlu dicermati pada remaja :

1. Perubahan Pola Tidur

Pola tidur remaja memang berbeda dengan orang dewasa. Secara natural mereka punya kecenderungan tidur larut malam dan bangun lebih siang. Walau begitu, jika pola tidurnya berubah drastis selama beberapa minggu, itu ialah ciri ia sedang depresi, insomnia, maupun cemas.

2. Kehilangan Hasrat pada Aktifitas Favoritnya

Hal yang wajar bila anak mau mengubah kegiatannya dari basket menjadi ikut klub drama atau yang lainnya. Yang wajib diwaspadai  adalah saat anak mulai terlihat menarik diri dari aktivitas ataupun sekolahnya dengan cara yang mencurigakan.

Menurut Dorfman, ini merupakan salah satu pertanda dari beberapa gangguan seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, bullying, ataupun gangguan perilaku serta pemusatan perhatian yang belum terdiagnosis.

Tips menghadapi anak remaja yang menutup diri
Menghadapi Anak Remaja yang Menutup Diri dan Malas Berkomunikasi dengan Orangtua

3. Penggunaan Obat berbahaya

Apabila orangtua menemukan pil ataupun mencium bau alkohol dari nafas anak, besar kemungkinan ia mulai terjerat alkohol dan obat- obatan berbahaya itu. Untuk memastikan apakah dia sudah menjurus ke kecanduan atau belum, diperlukan pemantauan serta dialog terbuka dengan anak.

“Anak remaja memang senang mencoba-coba, tetapi jika ia terlihat sering menggunakannya, itu adalah tanda bahaya,” ungkap Janice Morgan, konselor bidang pemulihan kecanduan.

4. Melukai diri sendiri

Remaja yang mulai melukai dirinya, misalnya menarik rambut, memotong rambutnya, juga menggambarkan tanda- tanda bahaya. Waspadai bila anak tiba- tiba jadi senang mengenakan baju lengan panjang walau cuaca panas, bisa jadi itu adalah trik yang ia gunakan untuk menutupi cedera di lengannya.

Terutama jika anak mencoba menghindar saat orangtua menanyakan hal itu atau mencoba mengajak mengobrol.

5. Mudah Marah/ Temperamental

Secara normal, marah merupakan salah satu emosi yang sehat. Namun saat marah ini tidak terkontrol dan sering meningkat menjadi kekerasan, orangtua harus waspada dan berupaya menghentikannya.

Jika kita menemukan tanda- tanda ini pada putra putri tercinta, hindari menyerangnya secara langsung karena bisa membuat anak semakin defensif.

Bujuklah anak berdialog saat suasana hatinya sedang tenang, dan sampaikan bahwa kita memahami rasa sakit yang dihadapinya. Kemudian, dengarkan anak serta jangan langsung berpendapat ataupun menghakimi. Dengan mendengarkan anak, kita akan menemukan gambaran yang nyata mengenai dunianya.

Misalnya saja, anak merokok karena ia merasa hal itu membuatnya rileks. Dari pengakuannya ini kita dapat membantunya mencari trik mengurangi stress dengan teknik yang lebih sehat.

Bila anak tidak ingin terbuka ( hal ini sangat alami) pada orangtuanya, orang dewasa lain yang ia percaya, seperti instruktur ataupun gurunya, mungkin dapat menolong.

Ungkapkan pada anak bahwa orangtua mengerti bila anak belum ingin menceritakan dengan cara detil. Sampaikan juga bahwa kalau mereka mau bercerita, maka orangtua biasa memberikan support terbaik sehingga anak dapat melindungi dirinya dari perilaku bisa melukai diri sendiri ataupun orang lain.

Bila situasinya tidak pulih atau bahkan perilaku anak semakin menjadi- jadi, ajaklah anak bertemu dengan terapis yang profesional.

Tags:

You Might also Like