Type to search

Good Parenting

Kenali 6 Bahaya Kekerasan Verbal pada Anak dan Memutus Mata Rantai Kekerasan

Bahaya Kekerasan verbal pad anak

Jika selama ini kita sangat familiar dengan kekerasan fisik, jangan lupa bahwa ada juga kekerasan verbal (ucapan) dan mental. Bukan hanya pada dewasa, kekerasan verbal juga kerap dialami oleh anak.

Apa itu Kekerasan Verbal pada Anak?

Kekerasan verbal adalah kekerasan terhadap perasaan dengan menggunakan kalimat- kalimat kasar atau negatif tanpa menyentuh fisik seseorang. Dalam hal anak, ini bisa berupa kata- kata negatif, ejekan, bentakan, atau teriakan yang dilontarkan pada anak.

Sayangnya, pelaku kekerasan verbal pada anak biasanya justru datang dari orang dewasa terdekat, yaitu dari orangtuanya sendiri atau kerabat yang lain. Banyak yang melakukan ini dengan tanpa kesadaran.

Beberapa orang dewasa bahkan tidak menyadari potensi bahaya dari kekerasan verbal ini. Sebagian berpikir tujuannya sebenarnya baik, yaitu untuk mendidik dan mendisiplinkan anak. Namun dengan pemilihan kata dan cara yang kurang tepat, kekerasan verbal bisa berdampak lebih buruk dari kekerasan fisik.

Bentuk dan Contoh Kekerasan Verbal pada Anak

Banyak orang dewasa yang sebenarnya melakukan kekerasan verbal tanpa disertai niat jahat. Misalnya saja, orangtua atau guru kerap melakukan ini dengan niat untuk mendidik anak, namun pemilihan katanya tidak tepat dan membuat batin anak terganggu.

Berikut ini beberapa contoh kalimatnya :

  • “Kamu kok bodoh sekali sih, begini saja tidak bisa?”
  • “Masa’ teman- temanmu dapat nilai 100, kamu dapat nilai 50 sendiri?”
  • “Adikmu saja bisa, kok kamu nggak bisa sih?”
  • “Sudahlah.. Kamu tidak perlu mengerjakannya karena sudah pasti kamu nggak bisa.”
  • “Dasar anak bandel.. Nggak bisa ya sehari saja kamu duduk manis?”
  • “Mama harus mengajarkan berapa kali ke kamu agar kamu paham? Dari tadi nggak bisa- bisa..”

Familiar dengan kalimat- kalimat itu, Ayah Bunda?

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah bentuk- bentuk kekerasan verbal pada anak :

  • Mengintimidasi 
  • Mengancam
  • Menggertak/ Membentak
  • Memaki dan merendahkan anak
  • Meneriaki
  • Memfitnah
  • Menakut- nakuti anak
  • Memberikan sebutan tidak pantas (labeling)

Jika sampai saat ini Ayah Bunda tanpa sengaja masih melakukan hal- hal di atas, cobalah untuk segera menghentikannya, ya!

Bahaya Kekerasan Verbal pada Anak

Banyak para ahli yang menganggap kekerasan verbal lebih berbahaya dari kekerasan fisik. Jenis kekerasan ini bisa membuat anak mengalami keterlambatan perkembangan, memicu komplikasi, memicu gangguan perilaku, dan masih banyak lagi.

Berikut adalah 6 bahaya kekerasan verbal pada anak yang dihimpun ParentingCenter.id dari berbagai sumber :

1. Memicu gangguan perilaku pada anak

Salah satu bahaya yang ditimbulkan dari kekerasan verbal adalah dapat mengubah perilaku anak. Anak bisa berubah menjadi sangat pemurung, temperamental, atau bahkan agresif terhadap anak seusianya.

Anak yang mengalami kekerasan verbal biasanya akan mencoba pelarian atau pelampiasan dengan meniru kekerasan yang diterimanya kepada orang lain. Akibatnya, anak berpeluang tumbuh menjadi tukang bully terhadap anak lain.

2. Menghancurkan kepercayaan diri anak

Saat anak secara konsisten diserang dengan kalimat- kalimat negatif, ini akan menurunkan rasa percaya diri mereka. Kata- kata yang menyakiti anak ini akan terus menghantuinya dan merusak citra diri mereka.

Mereka akan merasa tidak berharga dan bahkan bisa kehilangan cara menghargai diri sendiri.

3. Anak menjadi penakut dan rendah diri

Kekerasan verbal akan membuat anak yang seharusnya merasa dicintai justru menjadi sosok yang penuh dengan rasa takut dan penuh rasa bersalah. Ia mungkin akan terus menerus bertanya pada diri sendiri tentang apa kesalahan yang ia lakukan sampai ia mendapat perlakuan seperti ini.

Akhirnya, karena terbiasa disiksa secara batin, anak akan merasa bahwa dirinya berhak diperlakukan seperti itu dan terus merasa rendah diri.

4. Rasa sakitnya bisa bertahan seumur hidup

Berbeda dengan sakit fisik yang rasa sakitnya bisa hilang begitu sembuh. Rasa sakit karena direndahkan, diintimidasi atau diteriaki akan menghasilkan sakit secara emosional yang menghantui anak sepanjang hidupnya.

Dampak yang muncul adalah saat anak mengingat kejadian ini, ia akan kembali tersakiti meski sudah bertahun- tahun lamanya.

Kenali 6 Bahaya Kekerasan Verbal pada Anak dan Memutus Mata Rantai Kekerasan

5. Anak kehilangan motivasi hidup

Anak korban kekerasan verbal akan kesulitan untuk mengembangkan pandangan positif. Ia akan terjebak dalam citra diri negatif dan merasa dirinya tidak pantas mendapatkan kesempatan baik dalam hidupnya.

Anjuran ‘berpikir positif saja’ bukanlah hal yang mudah diterapkan kepada orang- orang yang menjadi korban kekerasan verbal sejak ia masih kanak- kanak.

6. Dampak negatif untuk kesehatan

Anak yang sering mengalami kekerasan verbal juga rentan terhadap depresi. Depresi ini selanjutnya bisa mengarah ke perbuatan dan kebiasaan negatif. Misalnya kebiasaan makan terlalu banyak atau berhenti makan, dan pola tidur yang buruk.

Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan tulang, otot, dan juga organ vitalnya. Lambat laun, kondisi fisik anak menjadi lemah dan tumbuh kembangnya tidak optimal seperti anak seusianya.

Memutus Mata Rantai Kekerasan Verbal

Meski menyebut ‘anak nakal’ mungkin dianggap biasa oleh sebagian orang, bukan berarti ini hal yang benar dan boleh diteruskan. Saat ini sudah banyak media parenting tempat orangtua saling belajar dan menambah wawasan. Mari kita putus mata rantai kekerasan verbal terhadap anak.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa orangtua lakukan untuk memutus mata rantai kekerasan verbal ini :

  • Melatih diri untuk tidak mudah emosi pada anak.
  • Selalu cari tahu alasan mengapa anak melakukannya sebelum menghakimi atau memerahi mereka.
  • Nada bicara sangat penting, jadi cobalah untuk mengatur nada bicara Ayah Bunda agar tidak berteriak pada anak.
  • Ganti kalimat negatif menjadi positif.
  • Quality time bersama anak dan pasangan untuk memupuk komunikasi yang baik dan bonding keluarga.
  • Terapkan wajib minta maaf pada anak jika kelepasan emosi dan berkata buruk pada anak, lalu berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak mengulangi (Ini akan melatih kita untuk mengontrol diri).

Semoga setelah membaca artikel ini, Ayah Bunda akan terinspirasi untuk menjadi orangtua yang lebih memotivasi dan mendisiplinkan anak dengan kalimat- kalimat yang positif dan menguatkan mereka.

Selamat mencoba ya, Ayah Bunda! Jangan lupa untuk membagikan artikel ini untuk menginspirasi lebih banyak orangtua lainnya ya 🙂

Tags: