Type to search

Good Parenting

Ayah Bunda Jangan Langsung Emosi, Pahami Alasan Balita Melakukan 6 Hal Ini

Jangan emosi, pahami balita melakukan ini

Sejak usia balita, anak sudah mempunyai daya analisa karena kemampuan berpikirnya yang berkembang pesat. Ia mulai belajar banyak dari informasi yang ia peroleh di sekitarnya dan mencontoh apa yang ia lihat.

Jangan heran, kemampuan menyerap anak bisa menghasilkan banyak keahlian- keahlian baru. Keahlian baru ini kadang membuat Ayah dan Bunda takjub, senang, sekaligus gemas. Tidak jarang pula Ayah Bunda dibuat geleng- geleng kepala dan terpancing emosi.

Tingkah Laku Balita yang Bikin Gemas dan Memancing Emosi

Jika tingkah anak mulai memancing emosi, Ayah Bunda perlu bersabar dan tenang dulu. Selalu ada maksud tersendiri dari tingkah buah hati yang menggemaskan dan menguras energi ini lho. Kita simak yuk apa saja penyebab dan alasan balita melakukan hal- hal yang bikin gemas ini.

1. Merengek

Untuk anak usia balita, kehilangan perhatian sebentar saja bisa membuatnya kecewa. Maka saat ia kehabisan kata- kata untuk mengungkapkan rasa kecewanya, ia akan merengek.

Lakukan ini :

Jika rengekan anak dipicu karena penolakan orangtua, berikan alasan jujur mengapa Ayah Bunda menolak keinginannya. Berikan pemahaman dengan kalimat yang mudah dimengerti anak- anak.

Selain itu, berikan ia pelukan hangat dan katakan bahwa Ayah Bunda menyayanginya dan memahami apa yang ia rasakan.

2. Berbohong

Anak bisa berbohong karena beberapa alasan. Pertama, ia belum bisa memisahkan perbedaan dunia nyata dan imajinasi. Misalnya saja saat anak berkata dia tadi bertemu dengan ibu peri dan ibu peri memberikan hadiah untuknya.

Tentu saja ibu tahu kalau situasi ini tidak nyata. Atau saat dia berkata habis makan pizza raksasa bersama temannya. Anak mungkin sedikit melebih- lebihkan apa yang ia rasakan.

Dalam kasus yang berbeda, anak mungkin juga berbohong saat melakukan sesuatu. Misalnya saja saat memecahkan piring dan takut Ibu akan memarahinya.

Lakukan ini :
Jangan langsung percaya pada apa yang anak katakan. Cari tahu dulu kebenarannya dan pemicunya, baru Ayah Bunda bisa menentukan sikap.

Jika anak berbohong karena belum bisa membedakan antara khayalan dan fakta, jangan langsung hancurkan khayalannya. Ajak anak duduk bercerita, sambil menyelipkan fakta yang sesungguhnya.

Namun jika Anak berbohong karena ada yang ia tutup- tutupi atau takut dimarahi, beri anak edukasi bahwa perilaku berbohong itu tidak baik. Sampaikan dengan bahasa yang nyaman agar anak tidak lagi takut untuk berkata jujur.

3. Sering Marah

Ada banyak pemicu anak untuk tiba- tiba kesal dan berakhir dengan tantrum. Tantrum bisa muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya saja menjerit keras di tengah keramaian atau memukul- mukul.

Situasi ini kerap terjadi saat anak merasa tidak nyaman dan kesal. Luapan amarah seringkali menjadi jalan pintas anak dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Lakukan ini :
Langkah pertama, Ayah Bunda harus mengetahui dengan pasti apa penyebab anak tantrum. Apakah karena bosan, terlalu lelah, atau lapar. Dengan mengenali pemicunya, Ayah Bunda jadi lebih tahu bagaimana cara menangani tantrum anak.

Selanjutnya, ajak anak mengenali emosi marahnya. Dengan begitu, saat emosinya bergejolak lagi, anak lebih bisa menyalurkannya dengan tepat dan mengkomunikasikannya dengan orangtua.

4. Melanggar Peraturan

Anak- anak butuh waktu untuk memahami peraturan dan berkomitmen menaati peraturan yang orangtuanya berikan. Saat anak melanggar peraturan yang orangtua terapkan, bisa jadi karena ia belum bisa mengontrol diri atau ada yang tidak sesuai dengan keinginan.

DI sisi lain, ada anka- anak yang mungkin melanggar peraturan karena mencari perhatian dari orang- orang di sekitarnya.

Lakukan ini :

Hindari untuk langsung emosi dengan anak. Cobalah untuk mendekatinya dan mengajaknya untuk berbicara bersama. Setelah bersama dengan anak, sampaikan bahwa tidnakan anak tadi tidaklah benar.

Di situasi yang berbeda, beri anak apresiasi saat ia berhasil mengikuti aturan dengan baik. Misalnya saat anak sudah disiplin merapikan mainannya, ucapkan “Terimakasih ya, kakak sudah merapikan mainan kakak dengan baik.”

Untuk mendukung anak menjalankan kedisiplinan, hadirkan situasi yang membantu anak untuk melakukannya. Misalnya agar anak mudah dalam membereskan mainannya, siapkan tempat mainan khusus yang memudahkan anak dalam melakukannya.

5. Selalu Bilang Tidak

Balita sering mengatakan tidak biasanya karena melihat cara berkomunikasi orang- orang dewasa di sekitarnya. Kendati begitu, sering berkata tidak sebenarnya sangat normal di usia balita. Ini adalah cara yang sehat untuk mempunyai kontrol atas diri mereka.

Lakukan ini :

Jadilah sosok yang menjadi teladan untuk anak. Saat mereka melihat orangtuanya melakukan hal baik, anak akan cenderung melakukan hal serupa.

Saat anak terus berkata tidak untuk kebiasaan baik, tanyakan dengan nada datar apa alasan mereka menolak melakukannya. Dengan begitu anak dan orangtua akan mempunyai bahan diskusi terkait alasan dan mendiskusikan keputusan bersama.

Misalnya saja saat anak tidak mau sikat gigi malam, diskusikan mengapa anak tidak mau melakukannya. Setelah itu, bujuk anak untuk melakukannya bersama- sama dan sertakan juga alasan lainnya.

6. Senang Telanjang

Menolak mengenakan baju merupakan salah satu bentuk sikap balita untuk menyatakan kebebasannya, sekaligus mencari perhatian orangtuanya. Meski begitu, ini hanya salah satu fase sementara yang sering muncul dalam periode tumbuh kembang anak balita.

Lakukan ini :
Dorong anak untuk segera memakai bajunya dengan memberikan dua pilihan. Misalnya saja, “Mau pakai baju setelah lari keliling ruangan dua kali atau mau pakai sekarang?”

Dengan pilihan tersebut, anak akan terdorong untuk segera mengakhiri ‘drama’ telanjangnya. Selain itu, ajak anak untuk memilih baju yang akan ia pakai dan mengenakan baju dengan tangannya sendiri.

Beri juga edukasi pada anak tentang konsekuensi telanjang. Misalnya dengan mengatakan, “Jika telanjang terus, nanti adek akan masuk angin dan perutnya seperti mau muntah.”

Hindari wajah kesal atau marah, dan beri respon sewajarnya. Karena jika terlalu berlebihan, anak justru merasa berhasil mendapatkan perhatian orangtua dan mengulang drama telanjangnya.

Tags: