Type to search

Good Parenting

Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi

Memperbaiki mental anak yang sering dimarahi

Dalam fase tumbuh kembangnya, anak sering kali melakukan kesalahan dan mencoba banyak ‘kenakalan’. Bagi anak- anak, ini adalah cara mereka untuk belajar dan berkembang. Meski begitu, saat anak berbuat salah, sudah menjadi tugas orangtua untuk tetap memberikan teguran.

Teguran terhadap anak tentu perlu dilakukan dengan cara sebaik- baiknya. Orangtua perlu mendekat, memberikan sentuhan hangat, dan memberitahu secara perlahan tentang kesalahan si anak. Dengan cara ini, anak cenderung lebih mudah memahami kesalahannya.

Sayangnya, ada kalanya orangtua lepas kendali karena rasa lelah dan terpancing emosi. Hal ini sering menyebabkan orangtua kehilangan kelembutannya dalam mendidik anak. Akhirnya orangtua mulai kelepasan untuk membentak, berteriak, dan bahkan memukul. Hal ini tentu berakibat buruk untuk psikologis anak.

Terlalu Sering Memarahi Anak Bisa Berdampak Buruk

Anak yang mendapat didikan terlalu keras dan penuh dengan amarah akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembangnya. Terlebih jika anak sampai mengalami kekerasan fisik.

Seperti yang ParentingCenter.id kupas sebelumnya, sangat berbahaya saat orangtua punya kebiasaan memukul anak. Anak berpotensi mengalami gangguan perilaku dan depresi di masa depan.

Anak yang sering menjadi sasaran amarah dan pukulan orangtua nya juga berdampak buruk pada mental dan IQ nya. Mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang agresif, atau terlalu menutup diri. Trauma mental pada anak yang sering dimarahi semasa kecil sering sulit untuk disembuhkan.

Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi

Trauma mental anak tidak sembuh dengan sendirinya. Namun bila sudah terlanjur, bagaimana cara mengobatinya?

Ayah dan Ibu bisa mencoba beberapa tips berikut ini untuk memperbaiki mental anak yang sering dimarahi:

1. Minta Maaf pada Anak

Saat kelepasan melampiaskan amarah pada anak, jangan ragu atau gengsi untuk meminta maaf. Tanpa kita sadari, permintaan maaf orangtua ini akan sangat berarti untuk anak.

Meminta maaf pada anak dan mengakui kesalahan sekaligus mengajarkan pada anak untuk menerima bahwa setiap manusia bisa berbuat salah. Hal ini akan membantunya untuk menyembuhkan luka di hatinya.

2. Hindari Mengulangi Kesalahan yang Sama

Efek amarah tak terkendali orangtua pada anak biasanya mudah terlihat pada perubahan perilaku anak sesaat setelah dimarahi. Jika sudah menyadari hal ini, orangtua harus berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Belajarlah untuk mengendalikan diri lebih baik lagi, dan tunjukkan perubahan itu kepada anak. Perubahan sikap dan pola asuh orangtua bisa berangsur- angsur diikuti oleh perubahan perilaku dan mental anak.

Ini memang membutuhkan waktu. Namun jika dari sisi orangtua memperbaiki diri, situasi akan lebih baik lagi.

3. Beri Anak Ruang untuk Mengekspresikan Perasaannya

Bukan hanya orangtua saja yang bisa lelah dan jenuh, anak- anak bisa merasakan emosi yang sama. Maka dari itu, beri anak ruang untuk meluapkan emosinya.

Orangtua tidak perlu memarahinya saat dia ingin menangis. Sama halnya saat ia tertawa karena sedang gembira. Hal ini akan membantu emosinya lebih stabil dan membantu memperbaiki mentalnya.

4. Tunjukkan Kasih Sayang Anda

Emosi tak terkendali pada anak sering membuat mereka merasa tidak dicintai oleh orangtuanya. Jika dibiarkan berlarut- larut, Anda akan tumbuh menjadi rendah diri dan pendiam karena rasa sedih berkepanjangan.

Untuk mengobatinya, tunjukkanlah bahwa Ayah Ibu nya benar- benar menyayanginya. Jangan segan untuk memeluk dan menciumnya. Kontak fisik sederhana ini akan mengingatkan anak kembali bahwa orang tuanya menyayanginya.

Tunjukkan Anda menyayanginya untuk memperbaiki mental anak yang sering dimarahi
Tunjukkan Anda menyayanginya untuk memperbaiki mental anak yang sering dimarahi

5. Tingkatkan Kualitas Komunikasi dengan Anak

Tak peduli berapapun usianya, Anda selalu bisa bercerita banyak hal bersamanya. Meski mereka tidak selalu memberikan komentar, mereka belajar untuk mengerti dan memahami cerita Anda dengan cara sederhana.

Cobalah untuk menceritakan hal yang Anda alami hari ini atau cerita sederhana lainnya. Melalui obrolan dan komunikasi sederhana, anak akan merasa lebih mengenal Anda. Interaksi yang sebelumnya menjauh dan dingin, kini bisa menjadi lebih hangat.

6. Memahami Karakter Anak

Saat mulai meningkatkan kualitas komunikasi dan kedekatan, cobalah untuk memperhatikan anak Anda. Disini Anda akan belajar untuk lebih mengenali karakter mereka dan memahami jalan pikiran mereka.

Dengan memahami karakter anak, Anda bisa menentukan pola asuh dan sikap yang tepat saat membantu tumbuh kembang mereka.

7. Beri Anak Waktu Khusus

Anak sangat membutuhkan kehadiran orang tuanya. Kehadiran Anda bahkan lebih berharga dari semua jenis mainan atau hiburan mahal untuk anak.

Keberadaan orangtua di samping anak akan membuat anak merasa tenang dan disayangi. Hal ini akan membantu memperbaiki mental mereka yang sering dimarahi dan kembali menumbuhkan rasa percaya diri.

8. Ciptakan Hubungan yang Hangat dan Menyenangkan

Orangtua perlu tahu bagaimana cara berteman dengan anak atau cara mendekatinya. Dengan menjadi teman untuk anak, orangtua akan lebih mudah mengenali dunia anaknya.

Dari sisi anak, mereka akan lebih nyaman berkomunikasi dan bercerita banyak hal. Selain menyembuhkan trauma, hal ini akan memangkas jarak antara orangtua dan anak.

9. Tetap Tegas pada Anak

Menyembuhkan trauma anak bukan berarti memberi kesempatan untuk anak melakukan kesalahan yang bisa dihindari. Disini orangtua merubah sikapnya untuk tidak keras dan berlebihan, tapi tetap tegas.

Saat anak berbuat salah, berikan pemahaman tentang kesalahan yang ia perbuat dan beri konsekuensi yang mendidik. Di kesempatan lain saat ia berhasil melakukan hal baik, beri ia pujian tulus atau hadiah kecil.

Anda juga bisa menerapkan 10+ Cara Melatih Disiplin Anak yang Efektif & Tanpa Kekerasan untuk membantu anak- anak menjadi lebih disiplin lagi.

Kesimpulan

Orangtua harus menjadi teladan yang baik untuk anak itu memang sangat tepat. Di sisi lain, orangtua tak lepas dari kesalahan. Saat jenuh, lelah atau masalah internal, orangtua sering kelepasan memarahi anak.

Sayangnya, hal ini bisa berdampak buruk untuk psikologi anak. Untuk memperbaiki mental anak, orangtua bisa melakukan beberapa upaya untuk memperbaiki luka di hati anak, sekaligus memulihkan hubungan orangtua dan anak.

Semoga artikel ini menjadi pengingat untuk kita menjadi lebih baik lagi dalam mendidik anak.

Tags: