Type to search

Tumbuh Kembang

Lebih Penting dari IQ, Orangtua Bisa Gunakan Cara Ini agar Anak Jadi Orang Sukses Melalui Soft Skill!

Cara Membentuk Soft Skill Anak untuk Sukses Masa Depan

Sudah menjadi rahasia umum besarnya kepercayaan masyarakat bahwa kecerdasan otak adalah penentu kesuksesan seseorang. Namun menurut Michele Borba, psikolog pendidikan dan penulis buku best seller Amerika, IQ bukanlah segalanya.

Dalam beberapa kesempatan Borba mengungkap bahwa asa beberapa hal yang jauh lebih penting dari IQ. Menurutnya, soft skill jauh lebih berpengaruh terhadap keberhasilan anak di masa depan.

Tips Membentuk Soft Skill Anak agar Sukses di Masa Depan

Kabar baiknya, soft skill adalah hal yang orangtua bisa tanamkan pada anak sejak dini. Seperti ParentingCenter.id lansir dari CNBC, berikut adalah beberapa trik membentuk soft skill agar anak sukses di masa depan

1. Lawan Hal yang Membuat Anak Lemah

Tips pertama dari Borba untuk membentuk soft skilll anak adalah melalui peran orangtua dalam membantu anak melawan hal- hal negatif penyebab kegagalan. Berikut beberapa faktor pemicu seseorang kurang berhasil dalam hidup dan cara mengatasinya :

Kecemasan

Target untuk sukses tidak jarang membuat anak merasa tertekan. Maka dari itu, cobalah untuk membuat anak- anak merasa nyaman dan yakinkan mereka bahwa kasih sayang orangtua bukan berdasarkan pada seberapa besar pencapaian anak. Kendati begitu, tetap dampingi anak- anak untuk terus bersemangat menggapai mimpinya.

Kelelahan

Untuk menyiasati nya, biasakan anak tidur dengan jam teratur dan jumlah yang cukup. Singkirkan juga hal- hal yang berpotensi mengganggu waktu istirahat anak, seperti gadget, tv, smartphone, dan lain- lain.

Berpatokan pada Hasil

Menjadi prestasi sebagai standar hidup bisa membuat seseorang merasa tertekan. Oleh karena itu, orangtua perlu menanamkan pemikiran bahwa kesuksesan bukan melulu tentang hasil. Hindari memberi pujian tentang hasil, melainkan usaha yang anak lakukan.

Belajar Tidak Sesuai Kemampuan

Belajar banyak hal memang baik. Namun jangan lupa untuk memastikan hal yang sesuai dengan level kemampuannya. Selain itu, jangan paksakan anak untuk belajar yang tidak sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.

2. Ajarkan Anak tentang Kesalahan dan Hikmahnya

Dalam proses belajar, anak mungkin mengalami kegagalan. Saat mereka mengalami ini, dampingi mereka dan berikan motivasi. Tanamkan pada anak untuk memandang kesalahan dari sudut pandang positif, bahwa setiap hal selalu ada pelajaran dan hikmah yang dipetik.

Selanjutnya, jadikan pelajaran dan hikmah sebelumnya sebagai cambuk dan pijakan menuju pencapaian yang lebih baik.

3. Menguraikan Tugas

Saat menghadapi tugas yang rumit, ajarkan anak untuk menguraikan masalah mereka dengan lebih sederhana. Misalnya saat anak mendapat beberapa pekerjaan rumah, ajak anak untuk mendata semua hal yang perlu dikerjakan.

Selanjutnya, minta anak mengerjakan satu per satu sesuai tingkat urgensi dan kesulitan. Dengan begitu, anak akan berhasil menyelesaikannya dengan baik dan penuh percaya diri.

4. Merayakan Kemenangan Kecil

Kegagalan berulang sering membuat anak- anak putus asa dan frustasi. Untuk mencegah ini, Ayah Bunda bisa mengingatkan mereka tentang keberhasilan- keberhasilan kecil yang sudah mereka raih. Dengan begitu, mereka tidak akan menyerah sampai tujuan.

5. Latihan Fokus

Banyak orang yang mudah menyerah karena tidak terbebani dengan target yang jelas. Untuk mencegah hal ini, cobalah letakkan timer di meja anak saat mereka mengerjakan tugas dan minta mereka menyelesaikan sebelum waktu yang diatur.

Lakukan hal ini berulang sampai anak- anak terbiasa untuk fokus pada tujuan. Cara ini juga efektif diterapkan saat anak putus asa dan mudah menyerah dalam mengerjakan tugas.

6. Hilangkan Penghalang

Anak- anak sering menyerah melakukan sesuatu karena tidak bisa menemukan jalan keluar. Saat ini terjadi, coba beri anak pengertian bahwa rasa lelah dan frustasi adalah hal normal yang semua orang lami karena adanya “penghalang” yang tidak terlihat.

Untuk mengatasinya, ajak anak beristirahat sejenak agar mereka dapat berpikir jernih. Beberapa saat setelah anak siap kembali pada tugas, mereka akan mengerjakan tanggungjawab mereka dengan semangat baru dan lebih mudah mengatasi hambatannya.

7. Berikan Pujian dan Motivasi

Menurut Carol Dweck, seorang profesor psikolog dari Universitas Stanford, mengungkap bahwa pujian atas kecerdasan otak akan membuat anak kurang gigih dan tekun. Pujian atas kecerdasan otak in contohnya “Kamu Cerdas!”.

Sebaliknya, pujian terhadap usaha keras, seperti “Wah… kamu melakukannya dengan luar biasa”, justru bisa memotivasi anak untuk menjadi lebih baik.

Maka dari itu, saat memberikan pujian pada anak, berikan pujian yang memotivasi dan mengapresiasi prosesnya. Ayah Bunda juga bisa memberikan kalimat yang memotivasi, seperti “Hasilnya terlihat bagus karena kamu terus berusaha memberikan yang terbaik”.

8. Biarkan Anak Berusaha Sendiri

Yang tidak kalah penting dalam membentuk soft skill anak adalah mendorong mereka untuk melakukan hal- hal yang mereka bisa kerjakan sendiri.

Tidak sedikit orangtua yang terbiasa membantu anak- anaknya untuk hal yang bisa mereka lakukan. Akibatnya, anak- anak menjadi semakin bergantung pada orangtua. Hal ini berpotensi menurunkan kegigihan dan ketekunan mereka.

Saat Ayah Bunda melihat anak mampu mengerjakan tugas sendiri, hindari untuk ikut campur. Beri ruang untuk anak belajar mandiri dan menikmati keberhasilan mereka satu per satu. Dengan cara ini, mereka jadi tidak terbiasa bergantung pada orang lain.

Jadi, sudah siapkah Ayah Bunda mendidik anak menjadi orang sukses? Semoga bermanfaat ya!

Tags:

You Might also Like